Jika kita melupakan Allah, kita seperti jasad tanpa ruh. Mayat berjalan. Zombie. Atau vampir. Yang hidup di dunia hanya untuk makan, minum, kemudian mati.
Pun jika zombie atau vampir itu baik seperti yang diceritakan di beberapa kisah, maka kebaikannya hanya bertujuan pendek, sependek umur dunia. Kiamat akan terjadi dan boleh jadi waktunya sudah dekat.
Maka ingatlah Allah. Hidupkanlah ruh dalam jasad. Kedudukan mengingat Allah, atau berdzikir, kata Ibnul Qayyim bagi manusia bagaikan air bagi ikan. Bagaimana keadaan ikan yang tidak mendapatkan air? Mati tak bisa bernapas.
Mengingat Allah bukan hanya dalam lisan, namun juga dalam hati dan perbuatan. Di sinilah pentingnya dzikir, yang juga berfungsi sebagai pembentuk niat dalam setiap perbuatan.
Seseorang yang ingin melakukan sesuatu, akan berhenti sejenak mengikuti nurani yang jernih terbimbing, sejenak bertanya: Apa yang aku inginkan dengan melakukan hal ini? Mengapa aku melakukan hal ini, dan tidak melakukan hal itu? Bagaimana aku menyusun prioritasku, apakah demi tujuan sempit keduniaan, atau untuk manfaat kekal di akhirat? Dan lain-lain.
Seseorang yang berbuat sambil mengingat Allah, mau tidak mau terdorong untuk memperbagus perbuatannya tersebut agar sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah, dan sesuai dengan petunjuk Rasulullah.
Maka, ingatlah Allah. Semoga dengan mengingat Allah, Dia membantu kita untuk mengikhlaskan niat perbuatan kita. Semoga Allah membersihkan sifat kemunafikan dalam diri kita. Semoga Allah tidak menggolongkan kita sebagai orang-prang fasik yang lupa pada diri mereka sendiri.
Amin.